Kamis, 03 November 2016

Matematika Terapan Sosial



Matematika berasal dari bahasa Latin Mathematika yang diambil dari perkataan Yunani mathematike. Kata mathematike berhubungan dengan kata mathein atau mathenein yang artinya belajar (berpikir). Jadi berdasarkan asal katanya, maka matematika berarti ilmu pengetahuan yang didapat dengan berpikir (bernalar), bukan dari hasil eksperimen atau observasi. Matematika selalu berkembang, kini matematika digunakan di seluruh dunia sebagai alat penting di berbagai bidang termasuk ilmu alam, teknik, kedokteran/medis, dan ilmu sosial seperti ekonomi dan psikologi. Matematika terapan yaitu cabang matematika yang melingkupi penerapan pengetahuan matematika ke bidang-bidang lain, membuat temuan-temuan matematika baru, dan kadang kadang mengarah pada disiplin-disiplin ilmu yang sepenuhnnya baru, seperti statistika dan teori permainan.
            Dalam kehidupan sehari-hari secara tak sadar dalam hidup kita ilmu matematika selalu ada. Contohnya saja bagi para ibu rumah tangga yang setiap hari menghitung uang belanjanya dan uang jajan anaknya, artinya hampir segala aktifitas tak dapat lepas dari hitungan matematika. Setiap ilmu atau pelajaran lain tak dapat lepas dari matematika, contohnya ilmu psikologi.
            Secara umum definisi matematika adalah ilmu yang berkaitan erat dengan penghitungan dan angka-angka numerik. Sedangkan psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia, perilaku, mental serta perkembangannya. Memang sulit untuk memahami bagian mana yang terkait di antara kedua ilmu tersebut. Tapi disini terdapat satu contoh dimana ilmu matematika juga bisa diaplikasikan ke dalam ilmu psikologi.
            Dalam matematika, himpunan adalah segala koleksi benda-benda tertentu yang dianggap sebagai satu kesatuan. Teori Himpunan yang baru diciptakan pada akhir abad ke-19, sekarang merupakan bagian yang tersebar dalam pendidikan matematika yang mulai diperkenalkan bahkan sejak tingkat sekolah dasar. Dalam materi himpunan terdapat diagram Venn. Diagram yang digunakan untuk menggambarkan hubungan antara himpunan-himpunan. Sebagai bagian ilmu matematika, diagram Venn ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1880 oleh John Venn untuk menunjukkan hubungan sederhana dalam topik-topik di bidang logika, probabilitas, statistik, linguistik dan ilmu komputer. Diagram Venn membantu penggambaran psikologis suatu himpunan/kelompok.
Salah satu contoh hubungan matematika dan psikologi adalah dalam kasus perkembangan anak. Dalam suatu keluarga pasti terjadi penggabungan kepribadian, mulai dari kepribadian yang berbeda antara ayah dan ibu, ayah dan anak, ibu dan anak, serta orang-orang disekeliling mereka. Seperti contoh berikut : Sepasang suami istri yang berasal dari Jawa Timur dan Tengah kini tinggal di daerah Jakarta. Sang Ibu bekerja di salah satu SMA sebagai Guru. Sedangkan sang ayah sebagai seorang ustadz. Mereka memiliki hobi yang sama dan menurun kepada anaknya dengan hobi yang sama pula. Namun dedikasi ibu sebagai guru dan ayah sebagai ustadz sama sekali tidak menurun pada anaknya. Karena pergaulan anak tersebut menjadi brutal dan masuk kedalam lingkungan pergaulan bebas.
Jika dilihat dari segi psikologis keahlian anak tersebut dari hobinya berasal dari sifat genetis ayah dan ibunya. Keahlian dan hobi mereka ternyata menurun ke anaknya atau disebut perkembangan secara nativistik. Karena pengaruh lingkungan Jakarta yang keras, anak tersebut masuk kedalam pergaulan bebas yang sangat membahayakan dirinya. Ini juga bsa disebabkan oleh faktor kurangnya perhatian dari keluarga. Hubungan kelurga yang baik sangat dibutuhkan untuk menjaga kepribadian anak, apa lagi dalam masa pubertas dan remajanya. Dari contoh di atas kemudian dapat dibuat diagram Venn seperti dibawah ini.
y
 
x = anak memiliki hobi turunan
x
 
dari ayah dan ibunya.
y = Jakarta (lingkungan
buruk yang mempengaruhi)

           
Contoh lain hubungan ilmu matematika dan psikologi adalah statistik psikologi. Dalam ilmu psikologi, statistik digunakan untuk penghitungan hasil penelitian. Biasanya digunakan statistik deduktif dan induktif. Misalnya saja, seorang mahasiswa yang telah melakukan penelitian psikologi yang dibentuk dalam penghitungan statistika. Maka hasilnya orang yang menjadi objek penelitian tersebut akan terlihat bagaimana sifat dan perilakunya, apa saja yang harus diperbaiki maupun ditingkatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar